MADURAINDONESIA.COM - Adzan maghrib baru berselang dan berlalu. Sesaat terdengar dzikir Astaghfirullah Robbal Baroya seratusan santri sangat terang dari Masjid, mendayu dan berlagu. Bunyi sandal dari santri yang akan berangkat ke Masjid juga bertalu-talu. Rintik hujan masih terdengar menetes di pepohonan yang mengelilingi sekitar rumah. Dalam jenak nan tak lama, hujan mengguyur sangat deras. Aku masih belum beranjak dari kursi yang berada di ruangan itu. Dua buah kamus, Al-Munawwir dan Al-Azhar, tergeletak dan masih terbuka. Di dekatnya, ada kamus lain yang juga tersibak dengan lipatan kertas di bagian tengahnya. Aku masih terus menekuni kitab Bidayatul Hidayah yang beredar di depanku. Kitab yang sebentar lagi akan dibaca dan dikaji di hadapan seratusan santri di Masjid, dan yang selalu menjadi wiridan dalam taklim kitab setelah sholat Maghrib sejak pesantren ini masih diasuh oleh Kyai Haris Maulana. Izzatul Azizah, istri yang setahun terakhir menjadi pendampingku, juga masih setia menemaniku. Ia duduk di kursi yang sejajar dengan yang aku duduki. Sebenarnya, Izzah bukan hanya sekadar menemani, tetapi ia juga mengajariku membaca dan memahami kitab karangan Al-Ghazali itu.
Ya, memang istriku itulah yang selama ini selalu menjadi guruku dengan mendiktekan makna dari kitab-kitab yang ia miliki. Bukan hanya kitab Bidayah, tetapi juga kitab Marqoti Shuudit Tashdiq yang merupakan syarah Sullamut-Taufiq, Kasyifatus Saja, dan kitab-kitab yang lain yang semuanya menjadi materi di Pesantren. Ketika Izzah membacakan lafadznya, aku pun memberikan harkat pada kitabku yang semuanya memang baru aku beli. Kemudian ia memaknainya secara nahwiyah-shorfiyah, yang diikutiku dengan menuliskannya di kitab yang aku hampar di depanku. Bahkan Izzah juga tak segan-segan menerangkan maksud dari kitab-kitab yang ia bacakan, termasuk kitab Bidayah yang sebentar lagi akan aku ampu di Masjid. Di setiap kali aku akan mengisi taklim kitab, Izzah-lah yang selalu berperan dalam semua hal yang aku bacakan dan aku terangkan di hadapan santri. Dalam artian, aku hanya menjadi penyambung lidah perempuan berwajah bidadari itu. Sesuatu yang sangat memalukan dan membuatku selalu merasa minder berada di hadapannya. Hal itu berhubung aku adalah putra seorang kyai dan juga lulusan sebuah pesantren terkenal di tanah Madura, Pesantren Ulul Albab.
Aku memang menyesali semua hal yang telah aku perbuat selama di Pesantren dulu. Pekerjaanku dulu hanya main sepak bola tanpa waktu, nonton siaran langsung Serie A di rumah tetangga Pesantren, keluar batas tanpa idzin dan mencari sisa-sisa nasi santri pada waktu dini hari ketika perut merasa lapar habis begadang. Aku adalah santri yang hanya mengandalkan status sebagai lora saja. Status yang menjerumuskan aku pada jurang rasa malu yang mendalam. Status yang membuat aku hanya berbangga-bangga diri. Dengan status itu, aku menjadi malas untuk mengaji kitab dan menjadi nakal untuk masuk sekolah. Dulu aku berpikiran, buat apa harus ngaji dan bersekolah, lha wong nanti aku pasti akan menjadi pengasuh pesantren menggantikan Abah. Dengan status itu, aku bahkan pernah membuat sakit hati salah satu temanku. Saifuddin adalah nama teman sekelas itu. Semua santri Pesantren Ulul Albab tahu bahwa Saifuddin adalah santri terajin, atau dalam bahasa santrinya paleng muluk. Berbagai prestasi sudah ia sabet. Ia pernah menyabet juara II lomba qiroat dalam MTQ Propinsi Jawa Timur di Blitar dan nyaris menerbangkannya ke tingkat nasional di Riau. Untuk tingkat pesantren, sudah jelas tidak terhitung berapa kali namanya dipanggil ke atas panggung utama dalam berbagai even. Gelar Bintang Santri dua kali ia raih. Bintang Pelajar pun pernah ia dapatkan.
Saat itu, Saifuddin diangkat menjadi anggota Seksi Keamanan Pesantren. Sebagai bentuk tanggungjawabnya, ia menjalankan tugas itu dengan penuh amanah dan tanpa pandang bulu. Suatu malam, aku dipanggil ke Kantor Keamanan Pesantren. Yang jelas, santri yang dipanggil ke sana adalah para tersangka pelaku pelanggaran. Sangkaan yang dialamatkan padaku adalah tidak sholat berjamaah Maghrib di Masjid. Dan aku langsung mengakui hal itu karena tidak ada gunanya mengelak. Tak pelak, rambutku tergores delapan baris akibat gunting Ustadz Faqih. Hukuman itu tergolong agak berat ketimbang yang lain, karena aku tidak sholat berjamaah dengan bersembunyi di sungai. Memang, sore itu, setelah main sepak bola di lapangan, aku tidak langsung mandi. Sambil mengeringkan keringat, aku masih bercerita dengan Zuhri tentang final Liga Champions yang menobatkan Liverpool sebagai raja Eropa, mengalahkan AC Milan melalui adu penalti. Setelah adzan Maghrib, aku langsung berangkat ke sungai. Di sana, hanya beberapa santri yang semuanya hampir selesai mandi. Beberapa saat, tinggal hanya aku sendirian. Sayup-sayup, terdengar suara iqomah dari Masjid bertanda sholat Maghrib akan segera didirikan. Dalam waktu itu pun, terlihat sorot lampu senter anggota keamanan yang menyisir santri di Sungai. Aku pun segera menyelam dan menyembul kembali di bawah pohon yang menaungi sungai itu. Yang terlihat di permukaan air hanya mata, hidung dan mulut saja. Persis seperti TKI ilegal di Malaysia yang bersembunyi di dalam sungai saat ada ronda polis. Sial, sorot lampu senter itu tepat di mukaku dan terdengar suara lantang agar aku segera naik. Dan anggota keamanan itu adalah Saifuddin.
Maka, setelah aku keluar dari Kantor Keamanan Pesantren itu, aku langsung mencari Saifuddin. Di depannya aku katakan,
“Kamu jangan sok sukses di Pesantren ini. Prestasimu di sini belum menjadi ukuran kesuksesanmu ketika pulang ke rumah. Aku tahu, kamu hanya anak seorang petani, tidak sepertiku yang anak kyai dan keturunan darah biru. Masa depanmu masih belum jelas. Sedangkan aku, pasti akan menjadi pengasuh pesantren menggantikan Abah. Jadi, jangan sok lah di Pesantren ini.” Dan seabrek hinaan lainnya aku keluarkan. Mendengar itu, Saifuddin hanya diam tak bereaksi. Aku pun berlalu dari hadapannya.
Namun setelah aku berkeluarga, setelah aku mengalami sendiri, setelah aku merasakan sendiri, dan setelah aku menanggung akibat dari kenakalanku di Pesantren Ulul Albab dulu, aku sangat menyesal dan sangat merasa bersalah pada Saifuddin. Masak, seorang pengasuh pesantren harus diajari dulu oleh istrinya ketika akan mengisi ta’lim kitab. Sesuatu yang sangat memalukan. Dan itulah yang membuatku selalu merasa minder berada di hadapan Izzah.
Selain itu, aku menjadi kecil hati di hadapan Izzah karena aku bukanlah orang yang ia cintai. Aku bukanlah orang yang selalu hadir dalam mimpi-mimpinya. Ia final menjadi istriku karena kedekatan Abah dengan abahnya. Kyai Hambali adalah kawan dekat Abah sejak mereka mondok di Sarang Rembang. Kedekatan mereka semakin merapat saat Abah mempersunting adik Kyai Hambali yang bernama Nyai Masruroh yang tak lain adalah Ummiku. Aku ingat betul, saat itu Izzah sangat terkagum-kagum pada seorang laki-laki yang menjadi ustadznya di Pesantren Ulul Albab, tempatnya ia menimba ilmu. Laki-laki itu sangat alim, cerdas, penuh wibawa, tawadhu’ dan berkepribadian yang kuat. Aku tahu betul kekagumannya pada ustadz yang bernama Aris Al-Hifdzi itu karena ia selalu cerita hal itu kepadaku. Saat aku berkunjung ke rumahnya, Izzah yang tak lain adalah sepupuku itu selalu bercerita banyak hal yang ada hubungannya dengan Ustadz Hifdzi. Mulai dari caranya membaca kitab, triknya mengajar, metodenya menerangkan maksud kitab sehingga semua santri putri cepat faham, bahkan sempai gayanya mengabsen santri sangat lengket terekam dalam ingatan Izzah. Menurutnya, Ustadz Hifdzi selalu membuat suasana kelas menjadi hidup, baik melalui motivasi-motivasi yang ia tukil dari bukunya Ustadz Reza M. Syarief, David J. Schwartz, Florence Littauer dan Mario Teguh, atau melalui cerita-cerita dalam buku Cerita dari Negeri Seberang. Ia juga sering menukil taushiyah singkat Aa Gym dalam album The Fikr. Bahkan tidak jarang, ia menjelaskan arti dari lirik lagunya Chrisye, Ebiet G. Ade, Bimbo dan Kelompok Musik DEBU. Yang semakin membuat kelas jadi hidup saat Ustadz Hifdzi menyanyikan lagu-lagu dari lirik yang baru ia terangkan. Dan Izzah pun menceritakan semuanya padaku saat aku berkunjung ke rumahnya waktu liburan. Ia juga tak malu mangatakan bahwa orang seperti Ustadz Hifdzi-lah yang ia dambakan menjadi pendampingnya kelak.
Orang yang dipersunting Ustadz Hifdzi memang layak dan patut berbangga. Ia memang manusia yang menurutku sangat perfect. Ilmu agamanya sangat luas. Ia selalu menjadi rujukan santri ketika bertanya masalah hukum agama. Bacaan kitabnya sangat fashih, sehingga Kyai Muhammad Zuhri, pengasuh Pesantren Ulul Albab, menunjuknya menjadi muallim kitab bakda Isyak di Aula Pesantren. Sedangkan dalam ilmu umum, Ustadz Hifdzi tidak ada duanya. Aku tahu sendiri hal itu karena memang satu semester dan satu kelas saat sama-sama kuliah di kampus STAI Ulul Albab. Ia pernah memukul telak seorang dosen psikologi. Saat itu, sang dosen dengan sangat super-pede menjelaskan tentang cara mempengaruhi seseorang. Tanpa memegang suatu bukupun, ia panjang lebar mengupas isi sebuah buku yang dikarang oleh Dale Carnegie. Namun, di sela-sela penjelasannya, sang dosen salah mengutip isi buku itu. Spontan saja, Ustadz Hifdzi mengacungkan tangan seraya meluruskan kutipan yang salah dalam buku itu. Tidak hanya itu, ia pun mengeluarkan sesuatu dari tas bututnya, buku Mencari Kawan dan Mempengaruhi Orang Lain karangan Dale Carnegie yang tengah diterangkan oleh sang dosen. Hal itu membuat sang dosen meminta maaf kepada semua mahasiswa yang mengikuti kuliahnya, termasuk aku.
Aku pun maklum akan kehebatan Ustadz Hifdzi menguasai berbagai ilmu, termasuk ilmu umum. Ia tidak pernah meninggalkan buku dalam waktu luangnya. Ia pun tak sungkan-sungkan membeli berbagai kitab dan buku di toko buku milik Pesantren. Bahkan sering aku dapati ia sedang membeli novel-novel terbaru. Saat aku bertanya bertanya tentang hal itu, ia hanya menjawab diplomatis,
“Ilmu itu berserakan di mana-mana. Bisa di Al-Qur’an, di kitab, di buku ilmiah, di koran, majalah, komik, termasuk di novel.” Dan aku pun membuktikan kebenaran alasannya itu saat aku berkunjung ke kamarnya yang terletak di sebelah kamarku. Berbagai kitab dan buku memuati lemari yang terpajang di ruangan itu. Ada kitab Ihya’ Ulumiddin, Ianatut Tholibin, dan Adabul Alim wal-Muta’allim yang sempat aku perhatikan karena tergeletak di atas meja kecilnya. Selain itu, koleksi buku ilmiahnya pun seabrek. Ustadz Hifdzi pun sempat menunjukkan puluhan novel ke hadapanku. Di antara yang sempat aku lihat adalah Rhadamathus, Ayat-Ayat Cinta, KCB 1-2, Tetralogi Laskar Pelangi, Dalam Mihrab Cinta, Tapak Sabda, Bumi Cinta, Luka di Champs Elysees, Eclipse. Ada juga novel serial Sabda Sang Musafir Cinta dan Di Antara Dua Sukma karangan salah satu muridnya yang bernama KUFA. Semuanya terkoleksi dengan rapi dan bersampul.
Sekali lagi, perempuan yang berhasil dipersunting oleh Ustadz Hifdzi sangat beruntung dan patut berbangga. Dan Izzah-lah adalah salah satu orang yang sangat mengharapkan menjadi perempuan itu.
Di sisi lain, Ustadz Hifdzi juga menaruh hati pada Izzah. Aku sebagai kakak sepupunya sering dijadikan tempat menumpahkan rasa cintanya pada Izzah, walaupun tidak dengan kata-kata yang sangat konkrit. Pernah ketika kami sama-sama mau berangkat kuliah, ia bertanya padaku, apakah Izzah merupakan sepupu asliku, apakah Izzah punya saudara dan berapa jumlahnya, bahkan mengenai status Izzah, apakah ia sudah bertunangan atau tidak. Aku pun menjawabnya tanpa beban.
“Saya pastinya tidak tahu, Ustadz. Ustadz tahu sendiri kan, saya jarang pulang, kecuali pas hari libur. Saat Abah ke sini pun, beliau tidak pernah bercerita tentang itu.”
Sampai akhirnya, aku mendengar rencana Ustadz Hifdzi mau melamar Izzah. Dalam hati, aku menyetujuinya. Siapa yang tidak mau punya ipar seperti dia.
Namun akhirnya juga aku tahu bahwa lamaran Ustadz Hifdzi melalui salah satu keluarganya itu tidak diterima oleh Kyai Hambali, abahnya Izzah. Alasan yang disampaikan karena Izzah sudah ditunangkan dengan seorang laki-laki. Dan laki-laki itu adalah aku. Mendengar hal itu, aku jadi malu. Pertama kepada Ustadz Hifdzi, yang kedua kepada Izzah. Ia sangat tahu semua sepak terjangku di Pesantren. Selain karena mendengar dari sebagian ustadz, juga karena aku pernah bercerita kepadanya. Dan masalah pertunangan itu, yang jelas aku tidak tahu. Aku baru mendengarnya dari Abah saat berkunjung ke Pesantren. Beliau meminta maaf karena tidak mengabarkan sebelumnya kepadaku. Dan aku pun tidak bisa berbuat apa-apa. Kalau ditanya masalah cinta, selama ini aku hanya menganggap Izzah sebagai adik. Tidak yang lain.
Setelah aku berkeluarga, aku tidak pernah bertemu lagi dengan Ustadz Hifdzi. Aku masih belum berani untuk menghubunginya walau nomor handphone-nya aku simpan. Begitu pun sebaliknya. Ia tidak pernah menghubungiku walaupun dulu pernah meminta nomor HP-ku.
Dzikir yang juga biasa dibaca di pesantrenku dulu masih terang terdengar. Seratusan santri di Masjid tidak akan berhenti mengalunkan doa permohonan ampun dan ilmu manfaat melalui dzikir itu sampai imam memasuki Masjid. Dan sang imam itu adalah aku.
“Mas, cukup dulu ya! Nanti malam kita lanjutkan. Para santri sudah lama menunggu,” Izzah menutup kitabnya seraya beranjak meninggalkan kursi itu. Aku pandangi kepergian istriku itu sampai tubuhnya lenyap ditelan pintu kamar. Aku pun membereskan dua kamus besar yang tergeletak dan menyusunnya di bawah kitab-kitab yang lain. Kitab Bidayah yang sudah tercorat-coret di bagian luarnya itu segera ku ambil dan aku langsung keluar menuju Masjid. Seketika, dzikir pun berhenti bergantikan suara Wafi, sang muadzdzin, mengumandangkan iqomah.
Ditemani lagu Sejadah Panjang-nya Bimbo dari MP3 yang diputar di HP yang sengaja aku letakkan di dekat lemari, sebagaimana janji Izzah, setelah sholat Isya’, kembali ia membacakan kitab yang akan aku ajarkan besok. Kali ini kitab Kasyifatus Saja. Walau dalam hati merasa sangat malu, aku tetap melakoni hal itu. Dalam benakku, ketimbang aku malu di hadapan seratusan santri, mendingan aku malu pada istriku.
Waktu terus berjalan, Izzah tidak lelah-lelah terus membacakan lafadz kitab yang dikarang Imam Nawawi Al-Jawi itu, kemudian memaknainya. Yang aku lakukan, memberi harkat pada lafadz yang gundul dan memaknainya sebagaimana yang disampaikan Izzah. Menjelang pukul delapan malam, Izzah masih terus membacakan isi kitab syarah Safinatun Najah itu, namun aku memintanya untuk berhenti saat mendengar nada panggil di HP.
“Kenapa, Mas?”
“Ada telepon.” Aku beranjak menyongsong HP itu. Dari Ustadz Hifdzi. Sejurus kemudian, aku kembali duduk di kursi sambil membawa alat canggih itu.
“Siapa, Mas?” tanya Izzah.
“Dari Ustadz Hifdzi.”
Mendadak, ada warna lain di wajah putih Izzah. Jelas sekali, aku tangkap perubahan wajahnya saat mendengar nama Ustadz Hifdzi disebut.
Baban Tingkat Banyuanyar, 21-12-2010
Teruntuk kawanku: Najihi, Didin FC, Mahmud FC, Ibnu Hambal, el-Salim, Yazid Lahore, AAF, Elidh Adams, KUFA dan semua simpatisan Istiqomah Community. Buat yang selalu perhatian: Alaf, George Stevens, Aris, Ghaida, Ghaitsa, para Mahadewi (eks Dewi-Dewi) dan semua Juventini Banyuanyar, peace selalu.
(21-12-2010)